Oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
"Saul mengalahkan beribu-ribu, Daud berlaksa-laksa"
Demikian kira-kira teriak membahana, yang memerahkan kuping, wajah..dan hati Saul. Latar belakang kisah dari Timur Tengah itu adalah : Saul adalah
Raja (incumbent saat itu), sementara Daud -anak buahnya- masih berstatus kepala pasukan. Masalahnya adalah : popularitas Daud sedang menanjak alias naik daun, melangkahi boss besarnya.
Aku rasa sebagian besar yang melakukan sambutan bagi Daud adalah "cewek". Dari sekedar anak kecil, ABG, wanita dewasa, ibu-ibu, hingga nenek PML (Pengen Muda Lagee).
Bayangkan mereka tidak hanya bernyanyi, mereka menari! Kalau itu jaman sekarang, bukan tidak mungkin mereka berakhir pingsan, lantaran histeria.
Seandainya ada gadget saat itu, habislah Daud difoto-foto dan diupload-upload.
Seandainya sudah ada BB, maka status mereka pastilah puja-pujaan kepada Daud.
Seandainya sudah ada FB dan Twitter, maka friends dan follower Daud pasti berjubel tak terkira. Like! Likeee! Likeeee!
Seandainya..sudah ada media..pastilah akan ada "Liputan Khusus Gebrakan Daud"...
Wangi Daud memekatkan udara. Sebuah aroma therapy "harapan" untuk rakyat. Namun berdampak kontraproduktif untuk seseorang. Saul sesak nafas. Laksana bau duren untuk mereka yang anti duren.
Apa kelanjutan ceritanya? Saul melakukan percobaan pembunuhan ke Daud. Bukan "pembunuhan karakter", tapi pembunuhan "beneran". Alhasil? Daud kabur...
Istilah "mblusuk" sekarang ngetop, mengalahkan "nikah siri" dan "korupsi".
Jurus pamungkas Jokowi itu..kabarnya ditiru Pak Beye. Jelaslah media punya peranan kuat mengipasi berita hangat ini..menjadi membara.
Sindiran menghujani SBY : pencitraan, niru-niru, latah, gak punya bahan, hingga telmi.
Tidak ada yang tahu tentang hal itu secara persis, kecuali : TUHAN, SBY dan setan. Ibu Ani pun mungkin hanya sekedar "ngikut suami", seperti Pak Bud "ngikut gimana amannya saja".
Terlepas dari itu semua, sepak terjang Jokowi-Ahok memang layak di contoh semua orang. Gebrakan mereka seharusnya tidak hanya mendapat dukungan dari media, namun juga DOA-DOA kita. Apapun agama Anda!
Yang jelas... gerakan Jokowi-Ahok "mbalasak-mblusuk" ini memang HARUS diteladani sebagai bentuk bagaimana pemimpin mengetahui masalah di rakyatnya secara presisi demi menyajikan solusi, tentu itu pantas dan harus ditiru oleh semua pemimpin di Indonesia tak terkecuali Pak Beye.
Namun jika itu hanya ingin melahirkan teriakan dan tarian histeria seperti yang diperuntukkan kepada Daud...wah ini bahaya.
Lebih bahaya lagi jika akhirnya melahirkan adegan "pelemparan tombak" (Saul melemparkan tombak kepada Daud, secara diam-diam!) yang ditujukan kepada mereka yang dicintai rakyat (lebih pantas memimpin).
Drama Indonesia banget yang seringkali klise...
Kepala sekolah terusik dengan popularitas seorang guru yang berprestasi.
Manager terganggu dengan prestasi bawahannya sendiri.
Dekan iri kepada pembantu dekan.
Presiden cemburu karena gubernurnya lebih ngetop, tanpa harus pajang foto-foto.
Gubernur terganggu sama walikota-nya yang lebih terkenal.
Menteri dengan asistennya.
Artis tua dengan artis muda.
Suami terhadap istri.
Dsb..dsb...
Semoga para pemimpin "senior" di Bangsa ini tidak punya mentalitas Saul, hingga membuat para pemimpin muda (orang lain) yang berbakat, terhalang menuju permukaan.
Ini penting..agar Bangsa Indonesia segera..BANGKIT & BERSINAR!
"Saul mengalahkan beribu-ribu, Daud berlaksa-laksa"
Demikian kira-kira teriak membahana, yang memerahkan kuping, wajah..dan hati Saul. Latar belakang kisah dari Timur Tengah itu adalah : Saul adalah
Raja (incumbent saat itu), sementara Daud -anak buahnya- masih berstatus kepala pasukan. Masalahnya adalah : popularitas Daud sedang menanjak alias naik daun, melangkahi boss besarnya.
Aku rasa sebagian besar yang melakukan sambutan bagi Daud adalah "cewek". Dari sekedar anak kecil, ABG, wanita dewasa, ibu-ibu, hingga nenek PML (Pengen Muda Lagee).
Bayangkan mereka tidak hanya bernyanyi, mereka menari! Kalau itu jaman sekarang, bukan tidak mungkin mereka berakhir pingsan, lantaran histeria.
Seandainya ada gadget saat itu, habislah Daud difoto-foto dan diupload-upload.
Seandainya sudah ada BB, maka status mereka pastilah puja-pujaan kepada Daud.
Seandainya sudah ada FB dan Twitter, maka friends dan follower Daud pasti berjubel tak terkira. Like! Likeee! Likeeee!
Seandainya..sudah ada media..pastilah akan ada "Liputan Khusus Gebrakan Daud"...
Wangi Daud memekatkan udara. Sebuah aroma therapy "harapan" untuk rakyat. Namun berdampak kontraproduktif untuk seseorang. Saul sesak nafas. Laksana bau duren untuk mereka yang anti duren.
Apa kelanjutan ceritanya? Saul melakukan percobaan pembunuhan ke Daud. Bukan "pembunuhan karakter", tapi pembunuhan "beneran". Alhasil? Daud kabur...
Istilah "mblusuk" sekarang ngetop, mengalahkan "nikah siri" dan "korupsi".
Jurus pamungkas Jokowi itu..kabarnya ditiru Pak Beye. Jelaslah media punya peranan kuat mengipasi berita hangat ini..menjadi membara.
Sindiran menghujani SBY : pencitraan, niru-niru, latah, gak punya bahan, hingga telmi.
Tidak ada yang tahu tentang hal itu secara persis, kecuali : TUHAN, SBY dan setan. Ibu Ani pun mungkin hanya sekedar "ngikut suami", seperti Pak Bud "ngikut gimana amannya saja".
Terlepas dari itu semua, sepak terjang Jokowi-Ahok memang layak di contoh semua orang. Gebrakan mereka seharusnya tidak hanya mendapat dukungan dari media, namun juga DOA-DOA kita. Apapun agama Anda!
Yang jelas... gerakan Jokowi-Ahok "mbalasak-mblusuk" ini memang HARUS diteladani sebagai bentuk bagaimana pemimpin mengetahui masalah di rakyatnya secara presisi demi menyajikan solusi, tentu itu pantas dan harus ditiru oleh semua pemimpin di Indonesia tak terkecuali Pak Beye.
Namun jika itu hanya ingin melahirkan teriakan dan tarian histeria seperti yang diperuntukkan kepada Daud...wah ini bahaya.
Lebih bahaya lagi jika akhirnya melahirkan adegan "pelemparan tombak" (Saul melemparkan tombak kepada Daud, secara diam-diam!) yang ditujukan kepada mereka yang dicintai rakyat (lebih pantas memimpin).
Drama Indonesia banget yang seringkali klise...
Kepala sekolah terusik dengan popularitas seorang guru yang berprestasi.
Manager terganggu dengan prestasi bawahannya sendiri.
Dekan iri kepada pembantu dekan.
Presiden cemburu karena gubernurnya lebih ngetop, tanpa harus pajang foto-foto.
Gubernur terganggu sama walikota-nya yang lebih terkenal.
Menteri dengan asistennya.
Artis tua dengan artis muda.
Suami terhadap istri.
Dsb..dsb...
Semoga para pemimpin "senior" di Bangsa ini tidak punya mentalitas Saul, hingga membuat para pemimpin muda (orang lain) yang berbakat, terhalang menuju permukaan.
Ini penting..agar Bangsa Indonesia segera..BANGKIT & BERSINAR!
0 komentar:
Posting Komentar